Dinamika Inhil – Momen peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi kabar baik bagi ratusan warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau. Sebanyak 879 narapidana memperoleh remisi umum, dan dua di antaranya langsung menghirup udara bebas, Minggu (17/8/2025).
Upacara penyerahan remisi dilakukan secara simbolis oleh Bupati Inhil, H. Herman, SE, MT, didampingi Kepala Lapas Kelas IIA Tembilahan, Prayitno, A.Md.IP., S.Sos. Acara berlangsung khidmat dan penuh haru, mengingat remisi ini menjadi harapan besar bagi warga binaan untuk kembali ke tengah masyarakat. Penyerahan remisi ini juga turut dihadiri Wakil Bupati Inhil, Ketua DPRD, unsur Forkopimda, Sekretaris Daerah, kepala OPD, pimpinan instansi vertikal, serta jajaran Lapas Kelas IIA Tembilahan.
“Remisi ini kesempatan untuk memulai lembaran baru. Jadikan momentum ini sebagai motivasi agar ketika kembali ke tengah masyarakat, saudara dapat menjadi pribadi yang lebih baik, mandiri, dan bermanfaat,”
Dalam sambutannya, Bupati H. Herman menegaskan bahwa remisi bukan sekadar pengurangan masa hukuman, melainkan bentuk penghargaan atas usaha perbaikan diri para napi.
Herman juga mengingatkan bahwa kemerdekaan yang dirasakan saat ini adalah buah dari perjuangan para pahlawan. Karena itu, seluruh pihak, termasuk warga binaan, harus bisa merasakan makna kemerdekaan. “Semangat persatuan dan kebersamaan inilah yang harus kita teruskan untuk menjaga kedaulatan dan memperjuangkan kesejahteraan bersama,” tambahnya.
Selain itu, ia menilai pemberian remisi memiliki makna pembelajaran. Remisi bukan hadiah, melainkan penghargaan bagi mereka yang menunjukkan perilaku baik, disiplin, dan aktif dalam program pembinaan. Jenis remisi pun bervariasi, mulai dari satu hingga enam bulan, tergantung masa hukuman dan penilaian perilaku napi selama menjalani pembinaan.
Bupati turut menyampaikan apresiasi kepada jajaran pemasyarakatan yang telah bekerja keras membina napi dan anak binaan. Ia berpesan agar petugas selalu menjaga integritas, menjauhi penyimpangan, serta memperkuat program pembinaan, terutama kegiatan produktif yang mendukung kemandirian ekonomi warga binaan.
Di sisi lain, Bupati juga menyoroti kondisi Lapas Tembilahan yang saat ini mengalami overkapasitas ekstrem. Lapas yang idealnya menampung 215 orang, kini dihuni lebih dari 1.018 warga binaan atau melebihi 500 persen kapasitas. “Kondisinya sangat tidak ideal. Kamar untuk 10 orang terpaksa diisi 50 orang lebih. Ini jelas sudah tidak manusiawi. Kita berharap segera ada solusi, termasuk pembangunan lapas baru agar pembinaan berjalan maksimal tanpa mengorbankan sisi kemanusiaan,” pungkasnya.














